WTF 2 : Bicara Tentang Perempuan

0
158

Setelah sukses mengangkat pembahasan tentang “Milenial”, Watch and Talk Film kini kembali membawa tema lain yaitu “Women Power”. Dibarengi dengan penanyangan tiga film berjudul Lilakno, Ujar Bumi Pada Bulan, dan Mahadewi.

Tiga film secara ini luas membicarakan tentang perempuan terkhusus ibu degan tiga peran mereka dalam kehidupan. Pertama ialah sebagai seorang istri, kedua sebagai seorang ibu dan ketiga sebagai warga biasa yang mencoba melawan sebuah ketidak adilan.

Film Lilakno, berkisah tentang seorang istri yang harus rela melepas sang suami untuk menikahi wanita lain hanya karena ia tidak bisa melahirkan keturunan perempuan. Sedang pada film Ujar Bumi Pada Bulan menceritakan seorang ibu yang rela menjadi pelacur untuk menghidupi anak semata wayangnya, dan point penting dalam film ini ialah bagaimana ibu tersebut mau mengorbankan martabatnya sebagai wanita untuk membuat kehidupannya anaknya menjadi lebih baik. Dalam film Mahadewi, dimunculkan tokoh ibu muda yang menolak pembangunan sebuah pabrik di desanya karena takut jika tempat tinggalnya akan rusak karena limbah pabrik.

Saat ruang diskusi dibuka, muncul berbagai macam statement yang pro serta kontra. Beberapa peserta diskusi memaparkan pendapat bahwa tiga film yang diputar sudah cukup membuktikan bahwa power wanita itu tidak main-main. Ditilik dari kerelaan hati seorang perempuan. Terkadang perempuan memang selalu dianggap lemah karena sebuah statement yang muncul dalam film pertama. Namun sebenarnya disitulah kualitas kekuatan wanita. Ia bisa saja memilih untuk bertahan dan mendapatkan haknya sebagai seorang istri, akan tetapi ia juga berfikir bahwa lawannya kali ini adalah sesama wanita yang juga mencari hak untuk hidup bahagia bersama pria yang diinginkannya. Jadi jika dikaji kembali, sang istri pertama lebih menggunakan haknya untuk hidup bebas dan tidak lagi harus merasakan sakit.

Statement wanita adalah hal yang berharga muncul dalam pengkajian film kedua. Realita mengatakan bahwa beberapa ‘pelacur’ sengaja memasang tarif mahal hanya untuk semalam. Ini sudah cukup membuktikan bahwa keindahan wanita itu bukan main-main berharganya. Mungkin beberapa orang memang menganggap ‘pelacur’ itu murahan, tapi mereka bahkan memasang tarif mahal untuk diri mereka sendiri. Hal itu menunjukan bahwa wanita pun bisa mahal walau dengan cara yang murahan.

“Ya karena saking mahalnya inilah saya memutuskan untuk menutup aurat, karena yang dibuka aja orang lain harus bayar mahal buat menikmatinya” ujar salah satu peserta diskusi.

Memang terkadang wanita menjadi korban eksploitasi akan keserakahan pria yang terkadang tidak mampu menahan nafsu mereka. Sudah banyak kasus-kasus internasional yang memberikan statement bahwa wanita itu mudah sekali menjadi korban kekerasan karena selain lemah dalam tenaga terkadang perempuan juga tidak bisa mengelak karena kondisi.

Perempuan bisa dikatakan kuat dan lemah secara bersamaan. Kekuatan perempuan terkadang masih harus kalah dengan statusnya sebagai seorang istri yang memang diharuskan patuh akan suami. Kemandirian perempuan pun masih bisa kalah jika tidak ada aspek laki-laki dalam kehidupan pekerjaannya. Seperti ‘pelacur’, ia masih ditunjang dengan keberadaan laki-laki yang mau menyewanya.

Hal ini menunjukkan bahwa pada dasarnya di dunia ini tidak ada bisa lebih unggul. Entah itu laki-laki maupun perempuan itu sendiri. Women Power memang gencar diviralkan untuk melakukan kesetaraan gender, akan tetapi harus kita tilik lagi. Tak ada suatu hal didunia yang tak diciptakan untuk menyeimbangkan. Begitupun keberadaan laki-laki juga perempuan didunia ini tentu untuk saling melengkapi, saling mensupport satu sama lain.

Kelemahan wanita yang selalu menggunakan emosi dan bahkan lebih mudah baper dalam suatu masalah akan diimbangi dengan sikap tegas dan keteguhan seorang laki-laki. Wanita selalu mengatakan bahwa ia kuat tapi ia tidak menyadari bahwa tindakan tersebut menunjukkan gengsi tinggi dan berujung dengan ia yang harus menanggung akibatnya sendiri karena ia berfikir bahwa tak ada yang bisa memahaminya. Padahal dalam satu sisi disitulah pentingnya keberadaan laki-laki sebagai tempat keluh kesah dan penyamangat perempuan.(nd)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here