Ing Tutur : Pahlawan Bajingan

0
54

SINOPSIS:

Bercerita tentang sebuah konflik keluarga antara seorang ayah dan anaknya. Berawal dari
kebingungan seorang anak kecil, bernama Irwan(Muhammad Nadif Firdaus) tentang makna sebuah kata umpatan yang dilontarkan temannya untuk menghina ayahnya, sehingga membuat dirinya sakit hati dan kecewa kepada ayahnya. Mengetahui anaknya sedang merasa kecewa tentang dirinya, sebagai seorang ayah, Pak Parji (Bayu Nurseto) berusaha menunjukkan rasa kasih sayangnya dan menunjukkan pada Irwan bahwa dirinya lebih bermakna dari sekedar kata hinaan, sebagai seorang bajingan.

REVIEW:

Sebagai negara berkembang Indonesia masih memiliki tingkat kemiskinan yang cukup tinggi. Menurut data BPS, jumlah penduduk miskin Indonesia per Maret 2018 adalah 25,95 juta orang. Menuntut masyarakat dari segala lapisan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Keluarga sebagai lapisan terkecil dalam masyarakat menjadikan seorang kepala keluarga bertanggungjawab penuh akan kebutuhan keluarganya, baik materil maupun non materiil. Film Ing Tutur arahan Dito Ardhi Firmansyah memberi perspektif lain dari sebuah keluarga. Dimana dekontruksi maskulinitas seorang Ayah dalam film ini sosok Ayah menggambarkan sisi lain yaitu seorang Ayah memilik sisi feminisme atas dasar tanggung jawab yang dipikul oleh anaknya.

Diawal film digambarkan bagaimana kondisi masyarakat pedesaan yang sedang melakukan aktifitas mata pencahariannya, kemudian dilanjutkan dengan  seorang anak laki-laki bernama Irwan ( Muhammad Nadif Firdaus )  yang bermain bersama temannya mendapat cemoohan dari temannya dengan mengolok ayahnya seorang Bajingan. Rasa malu dan tertekan diekspresikan melalui pengadeganan sang anak yang sering merunduk, berdiam diri, dan sering melamun. Di lain sisi, sang Ayah digambarkan dengan sosok orang yang baik dan dikagumi di kampung tersebut. Hal ini terlihat pada saat Pak Pardji (Bayu Nur Seto) mengumandangkan Adzan mendapatkan apresiasi oleh ketiga rekannya karena suaranya yang merdu.

 

Dalam Film Ing Tutur  permainan emosional  antar pemain sangat mendominasi terutama dari sosok pak Pardji dimana ia harus mencerminkan orang tua yang baik dan sempurna bagi anaknya. Pak Pardji harus sabar san sebijak mungkin memberikan perhatian pada Irwan. Secara keseluruhan penggambaran diceritakan melalui shot dan pengadegan dari pada dialog, dan saat itu emosi diciptakan. Puncak emosi terjadi saat Irwan mulai menunjukkam sikap marah seakan tidak menerima ayahnya yang berprofesi sebagai bajingan di desa tersebut. Tak hanya emosi yang di kelola dengan epic, di babak ketiga penceritaan yaitu konklusi dari film ini, departement sinematografi menyajikan shot yang sesuai dengan situasi, dimana hanya terdapat satu shot dalam adegan Irwan dan ayahnya sedang menaiki gerobak sapi. Dalam adegan ini sang ayah berusaha memberi pengertian kepada Irwan selayaknya orang tua yang sempurna.

 

Sosok Ayah sebagai pahlawan keluarga.

Secara keseluruhan Ing Tutur menggambarkan sebuah keluarga yang kurang sempurna karena tidak adanya sosok Ibu di dalamnya, namun di lain sisi film ini memperlihatkan perjuangan seorang ayah yang berusaha menjadi orang tua yang cukup dan baik untuk anaknya.  perspektif penonton mengenai bajingan sangat berbeda pada film ini. Bajingan pada film Ing Tutur adalah sebuah profesi mengantar barang mengunnakan gerobak sapi, 180 derajat berbeda pemaknaan seperti apa yang diketahui selama ini. Namun pada dasarnya Bajingan menjadi permasalah inti dalam cerita.

Ayah digambarkan sebagai pahlawan dimana sosok ayah harus mencari nafkah, memasak dan mengajari anaknya. Dilema seorang ayah terhadap sikap dan situasi juga digambarkan secara halus dalam film Ing Tutur. Gejolak batin terasa dimana ia harus memberi pengertian pada sang anak namun di sisi lain keadaan pada faktanya memang demikian.

Pada intinya, komunikasi yang harmonis mampu diciptakan oleh siapapun tanpa dibatasi gender ataupun profesi, terutama dalam mendidik anak.

Diresensi oleh Qurrota Ayun

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here