WTF 5: Anak Kecil dalam Hidup

0
134

Setelah sukses melaksanakan WTF pertama hingga ke-empat, WTF ditutup dengan acara kelima bertemakan “Anak Kecil dalam Hidup” yang bekerjasama dengan Ngalup.Co. WTF kali ini mengundang komunitas luar untuk bergabung dalam diskusi tentang 3 film berdasarkan tema bersama anggota Kine Klub UMM lainnya. Ketiga film tersebut berujudul Dendang Bantilang, Siti Madosi Gusti, dan Mandeh. Ketiga film ini menceritakan tentang posisi sang anak dalam kehidupan keluarga dengan nasib yang berbeda.

Film pertama yang diputar yaitu Dendang Bantilang, film ini berceritakan tentang seorang lelaki bersama istri dan anaknya mengunjungi rumah kakek yang merupakan orang tua lelaki tersebut, yang persis berada di pinggir pantai. Kakek ini bekerja sebagai pembuat kapal yang diturunkan pula pada cucu-cucunya. Setelah ditinggal oleh ayah mereka untuk bekerja ke negeri tetangga sejak mereka kecil, sang kakak merasa tak cocok dengan pekerjaan membuat kapal dan ingin mencari kemana ayahnya berada.

Film kedua yaitu berjudul Mandeh, film ini menceritakan seoarang anak yang diberi tanggung jawab oleh ibunya untuk memandikan dan merawat kerbau satu-satunya milik keluarga. Sayangnya, saat di sungai, anak tersebut kehilangan kerbaunya yang membuat ibunya marah besar, ia pun kabur dari rumah. Pesan yang dapat diambil dalam film ini adalah pentingnya kehati-hatian dan rasa tanggungjawab.

Film ketiga yaitu Siti Madosi Gusti, film ketiga ini terdapat unsur agamanya dimana posisi seorang anak perempuan berada di keluarga yang beragama islam tetapi keluarganya terlihat kurang harmonis dan kurang beriman. Sehingga di film tersebut, ketika keluarga tersebut dalam keadaan sulit, sang anak pun mencari dan meminta pertolongan kepada Tuhannya dengan caranya sendiri dengan menggunakan perumpamaan.

Ketika forum diskusi dibuka, terdapat beberapa statement berbeda menanggapi film-film yang barusan disaksikan. Terdapat peserta yang menyampaikan komentarnya terhadap film Mandeh, dalam film tersebut diajarkan tentang tanggung jawab dan didikan dari ibu, tetapi di sisi anaknya, ia merasa tak disayang oleh ibunya. Singkat cerita anak tersebut pun akhirnya menyadari bahwa orang tua pasti menyayangi anaknya, maka dari itu sang anak pun tetap berusaha untuk mencari kerbau yang hilang. Peserta lain pun mengeluarkan pendapat, seberapa penting kerbau di daerah Minang, karena di film tersebut kurang dijelaskan berharga apa kerbau di sana. Dari segi teknis, Mandeh juga dikritik karena salah satu peserta berpendapat bahwa dalam film tersebut terdapat satu scene yang mana melanggar garis imajiner. Tetapi kritikan itu disanggah oleh peserta yang lain, bahwa menurutnya sang filmmaker tak semata mata dan memiliki alasan tertentu mengwapa melanggar garis imajiner.

Ada pendapat lain bahwa pada ketiga film tersebut mempunyai latar tempat yang sama yaitu di daerah “kekurangan”. Film Mandeh dan Dendang Bantilang memiliki pesan tersirat yaitu “pulang”, seperti dialog seorang kakek di film Dendang Bantilang “Semua orang butuh pulang”. Peserta lain juga berpendapwat bahwa ia setuju dengan keputusan pemeran kakak yang ingin kerja di negeri tetangga, karena jelas zaman sekarang orang lebih memilih untuk kerja yang pasti ketimbang membuat perahu yang gajinya tak seberapa, melihat situasi dan latar pada film tersebut. Pada film Siti Madosi Gusti, terdapat peserta yang mengkritik bahwa logat jawa pemeran sang ibu masih kurang sehingga unsur budayanya sedikit hambar. Pendapat lain berkata film Siti Madosi Gusti ini sedikit sensitif karena mengangkat isu agama.

Pada forum diskusi malam ini peserta WTF asik bertukar pikiran dan berkomentar terhadap ketiga film tersebut. Ketiga film tersebut menunjukkan bahwa terkadang pikiran seorang anak tidak bisa ditebak, dan orang tua pun juga perlu mengerti bagaimana dan apa yang ada di pikiran sang anak. (dhf)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here