Resensi Film ” Pesan Dari Barat “

0
282

\\
Peresensi : Ariel Pratama Effendi
Judul film : Pesan dari Barat
Sutradara : Suwardi Aditya
Produser : Dimas Giswa Prasida
Pemeran :
Goyco Faza Ghaffara
Andik Robson
Wahyu Eka
Arif Wibisono
Bahasa : Jawa dan Indonesia
Rilis : 2015
Durasi : 18 menit 17 detik

Sinopsis :
Film ini menceritakan tentang tiga orang prajurit yang menemukan sebuah pesan kemerdekaan pada sebuah gerbong kereta api yang berasal dari arah barat

Resensi :
Dalam film ini cerita dimulai ketika salah satu prajurit yang berasal dari pesisir pantai bernama Jono menemukan sebuah pesan di sebuah gerbong kereta api. Karena ia masih belum bisa membaca, ia lalu meminta tolong temannya yang juga sesama prajurit yang bernama Parman. Namun, Parman menyebutkan bahwa pesan tersebut adalah jadwal kereta. Tidak lama kemudian, datanglah Kapten Parman dan Jono yang geram karena mereka berbicara dalam bahasa Jawa, ia berkata bahwa setelah sumpah pemuda bahasa yang digunakan hanyalah bahasa Indonesia. Karena penasaran, Jono kembali menanyakan kepada Kapten apa yang ia temukan di gerbong kereta. Setelah melihat pesan tersebut Kapten pun terlihat panik dan mengajak Jono dan Parman ke suatu tempat.
Dalam perjalanan, kapten menceritakan rumor tentang sebuah pesan kemerdekaan yang berasal dari arah barat yang ditulis oleh sekelompok pemuda yang bernama Blok Menteng. Namun Kapten ragu, ia takut bahwa pesan tersebut merupakan jebakan dari para penjajah.
Kapten ternyata membawa Jono dan Parman ke kota yang sangat modern. Hal ini sangat mengejutkan karena pakaian yang dipakai oleh tiga orang prajurit tersebut sangatlah kuno seperti prajurit pada saat kemerdekaan. Dalam perjalanan, diperlihatankan beberapa toko-toko, produk maupun billboard yang memamerkan produk-produk asing.
Di perjalanan mereka bertiga beristirahat di sebuah warung di pinggir jalan, sembari beristirahat Kapten memerintahkan Parman untuk mencari keberadan prajurit lain di kota. Saat menunggu Parman mencari prajurit lain, Kapten bercerita tentang kota yang mereka datangi dan menasehti Jono tentang buruknya perilaku bangsa asing yang dengan licik memanfaatkan bangsa Indonesia untuk mengambil keuntungan sebesar-besarnya. Ia juga mengatakan bahwa sebenarnya bangsa asing itu iri dengan bangsa Indonesia karena negaranya tidak dikaruniai dengan kekayaan alam yang melimpah. Namun bukannya memahami setiap perkataan kaptennya ia hanya mengangguk-angguk saja karena kelaparan. Saat ditengah perbincangan tiba-tiba saja Parman memanggil mereka karena menemukan sesuatu. Parman menemukal suatu pesan yang dianggap oleh kapten merupakan sebuah pesan kemerdekaan. Setelah menemukan pesan tersebut, kapten memutuskan untuk mencari prajurit yang lain untuk melaksanakan upacara kemerdekaan bersama-sama.
Keesokan harinya, mereka belum juga menemukan para prajurit lain. tiba-tiba mereka melihat seseorang yang sedang menempelkan selebaran flyer ke dinding-dinding gedung. Flyer tersebut berisi informasi peringatan hari kemerdekaan di sebuah diskotik. ketiga prajurit tersebut mengira ia adalah seorang jendral tentara. saat berbicara dengan pria tersebut ia mengajak ketiga tentara tersebut ke sebuah acara yang flyernya ia tempelkan. Ketiga prajurit itu pun lalu menyetujuinya.
Saat di diskotik, ketiga tentara tersebut terlihat bingung dan canggung dengan keadaan sekitar mereka. Namun pria yang mengajak mereka itu bilang kemereka untuk santai dan menikmati acaranya. Ketiga prajurit tersebut pun mabuk-mabukan dan berjoget bersama pengunjung diskotik yang lain.

Kelebihan :
Film ini berisi kritik sosial tentang mental bangsa Indonesia yang sangat mudah diperdaya oleh bangsa asing lewat perkataan kapten. Namun tidak sampai disitu saja, dalam bentuk mise en scene film banyak sekali ditampilkan produk-produk asing yang berada di Indonesia dalam bentuk produknya langsung, toko produk, maupun billboard iklan produk tersebut. Hal ini secara tidak langsung menyindir masyarakat yang memiliki idealisme sama seperti Kapten dalam film tersebut namun, di sekitar mereka masih banyak produk-produk asing yang beredar bebas. Mudahnya film ini menggambarkan masyarakat yang hanya dapat berbicara tanpa adanya aksi nyata yang berdampak langsung ke lingkungan. Dalam film tersebut juga menampilkan ketiga prajurit yang juga menikmati dunia malam di diskotik yang notabene merupakan budaya bangsa asing. Hal tersebut menyindir masyarakat yang biasanya tidak konsisten dari idealisme yang mereka bicarakan dengan yang mereka lakukan. Secara keseluruhan film bisa menyindir dengan sangat halus dan ringan, namun tetap bisa membuat penonton berpikir tentang konten yang ada.

Kekurangan :
film ini terasa terlalu panjang dalam penceritaan. Menurut saya akan lebih mengena terhadap isu yang yang mereka sampaikan jika saat malam mereka beristirahat di warung pinggir jalan mereka langsung menemukan orang yang menempel-nempel flyer dan dia mengajak mereka ke diskotik. Menurut saya itu akan lebih terasa ketidak konsistenan ketiga prajurit tersebut terhadap apa yang mereka omongkan.

Kesimpulan :
Film ini sarat dengan kritik sosial, terutama tentang kehidupan sosial masa kini. Menurut saya film ini bisa menyampaikan sindiran yang cukup kuat namun dengan cara yang sangat halus. Namun mungkin akan lebih baik jika penceritaan tidak terlalu panjang, agar impresi yang didapatkan menjadi utuh.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here