Siti Madosi Gusti, Film Pendek yang Tidak Patuh dengan Aturan yang Dibuat Sendiri

0
115

Diresensi oleh: Achmad Sulchan

Siti Madosi Gusti adalah sebuah film pendek karya Rayhan Syafiq, seorang Mahasiswa TV & Film Universitas Padjadjaran. Film yang tayang perdana pada tahun 2018 ini bercerita tentang Siti, seorang anak SD yang ingin mendapatkan uang untuk membantu Ibunya menggeluti kemiskinan dan keabsenan peran Bapak dengan berdoa kepada Tuhan, namun Siti tidak tahu caranya. Film ini sudah mendapat beberapa penghargaan seperti Best Editing Youth Sineas Award 2018 dan Best Story Commoviecator Short Film Competition 2018 juga merupakan film kedua dari Rayhan Syafiq.

Kita mulai dari judul, ketika saya membaca judul “Siti Madosi Gusti” dan belum melihat filmnya, pikiran saya sudah liar kemana-mana. Jangan-jangan film ini akan membahas ketuhanan Jawa dari sudut pandang perempuan yang selama ini jarang disuarakan. Jangan-jangan film ini akan membahas konsep Syeh Siti Jenar tentang Manunggaling Kawula Gusti. Jangan-jangan film ini akan membahas konsep ketuhanan yang dipercayakan oleh Batara Guru kepada Resi Wisrawa yang bernama Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Atau tentang Dewaruci yang membahas sedulur papat lima pancher. Atau suluk linglungnya Sunan Kalijaga. Duh sungguh kecewa saya, judul yang sakti tersebut tidak membahas Ketuhanan Jawa sama sekali. Judul dengan bahasa krama inggil itu ternyata hanya memakai Bahasa Jawa sebagai tempelan semata. Tidak ada keJawa-Jawaannya sama sekali selain bahasa Jawa yang juga maksa.

Dengan bekal harapan di atas, di awal film saya langsung disuguhkan adegan KDRT di mana si Bapak yang bernama Didi menghajar si Ibu yang bernama Nani dan si anak bernama Siti menangis. Adegan KDRT itu dimulai dengan Didi meminta uang kepada Nani tapi tidak punya lalu Nani dihajar dengan berkata “Ya Tuhan, ampun mas ampun.” Adegan KDRT itu off frame dan hanya menunjukan Siti menangis saja namun di akhir scene diperlihatkan Nani jatuh terkulai setelah ditampar Didi. Di scene awal ini saya langsung mlengos, karena masih berharap ketuhanan Jawa akan dibahas, tapi mengapa jembatannya harus KDRT? Saya pikir ini sudah dimensi yang berbeda dengan bahasan dalam Ketuhanan. Jadi saya sebagai penonton bingung mau di bawa kemana.

Setelah itu ditunjukan seseorang mengangkat telpon dan mencatat nomor hp yang didektekan dalam perbincangan telpon di kertas undangan di bagian atas “Kepada Yth.” yang menjadi sangat penting di dalam film ini tidak terlihat begitu jelas. Lalu dilanjutkan dengan Nani yang mengeluh karena tidak punya uang untuk membayar tanggungan-tanggungan ditambah suaminya yang tidak memberi nafkah dan bisanya hanya mabuk dan berjudi saja. Pada saat yang sama, Siti meminta uang kepada Nani untuk membayar SPP sekolahnya. Setelah itu ada seoarang mengetok pintu rumah bernama Mas Joko mengetuk pintu rumah mengabarkan bahwa si Didi dikeroyok warga, Nani berlari keluar untuk melihat suaminya dan menyuruh Siti untuk tidak main. Ketika itu Siti melihat lagi surat tagihan SPP yang hanya “Kepada Yth.”

Setelah itu, Siti bersama temannya yang bernama Fitri pulang sekolah menggunakan seragam SD mengendarai sepeda angin. Siti bertanya kepada Fitri apa arti “Yth.” itu Ya Tuhan? Kata Fitri benar bahwa arti “Yth.” benar Ya Tuhan. Setelah itu Siti bertanya di mana bisa menemui Tuhan? Fitri menjawab bisa menemui Tuhan di Masjid, Gereja, dan Pura. Kata Fitri kita bisa minta apa aja kepada Tuhan dan akan dikabulkan. Singkat cerita, Siti mendatangi Masjid, Gereja, dan Pura untuk mengirim surat kepada Tuhan. Fitri tahu bahwa Siti mengirim kepada Tuhan dan membuntutinya dan mengambil semua surat Siti yang ditaruh di Masjid, Gereja, dan Pura. Dengan wajah heran dan sedih Fitri mengambil surat Siti seakan tahu bahwa tidak seperti itu caranya berkomunikasi dengan Tuhan. Setelah itu Fitri mencari sesuatu yang ternyata itu adalah kertas undangan di mana ada nomor HP di atas “Kepada Yth.”

Siti kecewa kepada Fitri karena Tuhan tidak membalas surat Siti. Kemudian Fitri berkata bahwa mungkin Tuhan sedang sibuk, lalu disuruhnya Siti untuk mencoba menghubungi Tuhan lewat nomor HP yang ditulis di kertas undangan di atas tulisan “Kepada Yth.” Ketika pulang Siti mengambil HP ibunya tanpa sepengetahuannya. Lalu bersembunyi dibawah meja dan menghubungi Tuhan dengan menelepon namun tidak dapat tersambung. Lalu Siti mengSMS nomor itu dengan awalan “Ya Allah.. Ya Tuhan Kami..” pada saat itu Nani mencari-cari Hpnya dengan memanggil-manggil HPnya “Pe, hape nangdi kowe? Ya Allah.” Lalu ada balasan di dari SMS Siti “Maaf.. ini siapa ya?” lalu siti berteriak frustasi. Lalu filmnya habis.

Saya bingung saya mau dibawa kemana oleh film ini, memikirkan KDRT, Kemiskinan, atau Ketuhanan? Lagipula jika memang Siti tidak mengerti bagaimana cara bekomunikasi dengan Tuhan bagaimana dia diakhir menyebut Tuhan dengan sebutan Allah? Otomatis dia tahu agama dan tatacaranya. Juga anak SD mana yang tidak tahu caranya berdoa atau berkomunikasi dengan Tuhan? Ketika membicarakan Tuhan di dalam KDRT hanya dengan cara menyebut “Ya Tuhan” saja tentu saja penonton akan lebih fokus kepada KDRTnya. Ketika membicarakan Tuhan dengan tulisan “Kepada Yth.” di surat undangan tentu orang lebih fokus ke Kemiskinannya. Tema Ketuhanan baru dibahas ketika dialog bagaimana menemui Tuhan antara Siti dan Fitri.

Ketika menceritakan konsep Ketuhanan apalagi dengan judul sakti seperti “Siti Madosi Gusti” seharusnya Sutradara membawa budaya Jawa juga. Bukan hanya tempelan saja. Dimana di Jawa meyakini bahwa di dalam manusia terdapat Tuhan kecil berupa diri manusia itu sendiri, diri yang sempurna. Bahwa tak peduli kamu cebol kamu bisa menggapai langit, tak peduli kamu buta kamu bisa menafsirkan bintang, dan tak peduli kamu buntung kamu bisa mengelilingi dunia. Artinya siapapun kita selagi manusia masih bisa bertemu dengan Tuhan di dalam diri sendiri. Meskipun sebodoh Siti yang tidak tau ritual keagamaan, selagi masih mencari Tuhan masih bisa ketemu karena ada di dalam diri sendiri.

Seharusnya sutradara tahu konsep set-up dan pay-off, biasanya seorang storyteller akan memberi gagasan awal untuk membangun cerita yang dibayar di gagasan akhir. Penanaman gagasan awal ini disebut set-up dan pembayaran gagasan akhir disebut pay-off. Maka seandainya storyteller menunjukan seorang tokoh membawa pistol (set-up), maka penonton akan menunggu kapan tembak itu akan digunakan membunuh seseorang (pay-off).

Lha ini pertama-tama set-up judulnya sudah menggiring opini orang yang setidaknya mengerti sedikit Ketuhanan Jawa kemana-mana. Lalu pay-offnya tidak ada, tidak ada keJawaan sama sekali dalam pembahasan Ketuhanan di sini. Setelah itu di scene awal yang merupakan adegan paling penting dalam film dengan begitu ceroboh Sutradara menset-up dengan adegan KDRT yang pay-offnya tidak ada lagi. Lalu mengapa harus diawali dengan KDRT? Lanjut lagi Sutradara menset-up dengan kemiskinan yang lagi-lagi tidak ada pay-offnya.

Jika memang mau bikin sub-Plot, harus nyambung dong dengan main-plotnya. Jika main-plotnya Ketuhanan, KDRT dan Kemiskinan di sini fungsinya apa? Jika dibuat sub-plot, mana akhirnya yang nyambung dengan main-plotnya? Kalau memang main-plotnya ketuhanan mengapa diawali dengan KDRT yang begitu kuat? Ini sub-plot sama main-plotnya yang mana sih?

Harus dipahami bahwa sebuah kejadian adalah perubahan, kita tahu di luar habis hujan karena kita melihat tanah yang awalnya kering menjadi basah. Artinya ada perubahan, ketika kita melihat tanah kering berarti tidak ada perubahan. KDRT dan kemiskinan di sini sama kasusnya, ini bukan kejadian, dan tidak perlu dimasukkan ke dalam film ini karena diakhir tidak ada kejelasan bagaimana akhirnya, jadi lebih KDRT dan Kemisikinan di sini membaik atau memburuk? Tidak jelas. Bahkan Ketuhanan di sini juga tidak jelas akhirnya, apakah Siti akhirnya tahu bagaimana berkomunikasi dengan Tuhan? Tetap tidak tahu. Apakah di awal Siti tahu bagaimana berkomunikasi dengan Tuhan? Tidak tahu. Jadi di mana ini perubahannya? Jika dari awal sampai akhir tidak ada perubahan kenapa cerita ini harus difilmkan?

Seharusnya pembuat film harus patuh dengan aturan yang dibuat sendiri, senadainya set-up judulnya seperti itu, pay-offnya harus kesana dong, gak lari kemana-mana. Okelah kalau memang mau ngomong kalau mau berdoa harus tahu syariatnya, namun jika memang mau menyuarakan itu mengapa harus memakai judul seperti itu? Kenapa harus budaya Jawa? Kenapa juga namanya harus Siti, di mana Siti merupakan sebutan wanita mulia di Jawa seperti Siti Maryam, Siti Khadijah, Siti Aisyah? Kenapa harus lewat KDRT dan Kemiskinan yang diakhir tidak jelas bagaimana nasibnya? Ini saya harus fokus ke mana? Judul? KDRT? Kemiskinan? Atau Ketuhanan? Harus dipilih dong Pak Sutradara!

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here