WTF ke-2 : Pro-Kontra Etika dalam Perfilman

1
734

Kembali diadakannya program kerja Watch and Talk film kali ini diikuti dengan tema “Peran  Filmmaker Terhadap Penyajian Isu Film Anak”. Terangkatnya tema ini didasari pada fenomena banyaknya film yang berkaitan dengan anak masuk ke dalam database Kine Klub UMM namun isu yang disajikan sedikit kurang sesuai.

Mengikuti lingkup tema yang disajikan, terpilihlah tiga film yang dirasa cukup untuk didiskusikan, antara lain ialah Ndak Ilok karya Galih Muhammad Thareq Aziz, Ilang karya Regian Syah serta Tiwas karya Achmad Ibrahim Mashudi. Pada film pertama, disajikan sebuah film yang mengangkat tentang mitos-mitos di pulau Jawa yang dibumbui dengan beberapa scene horror yang tergambarkan secara komedi. Film “Ilang”, film berbahasa Sunda ini mengangkat tentang mitos yang sering terdengar dimasa kecil, yaitu menahan buang air besar dengan mengantongi batu, sedang film “Tiwas” membawakan kisah dua anak laki-laki yang menghabiskan waktu pulang sekolah mereka dengan bermain layang-layang. Tiga film ini terkemas dengan mengunggulkan budaya serta kebiasaan dari masing-masing daerah melalui penggunaan dialog yang tersampaikan disepanjang film.

Pada umumnya, film terbagi dalam tiga babak penceritaan dan untuk film anak sendiri tiga babak itu tersampaikan secara ringan dan sarat akan pembelajaran tentang moral dan tanggung jawab sosial. Jika dibahasakan secara mudah, babak pertama pada film anak biasanya disampaikan dengan nasehat-nasehat dari orang yang lebih tua. Pada babak kedua, anak berani melanggar nasehat-nasehat tersebut sehingga babak ketiga berfokus kepada akibat yang diterima ketika sang anak melanggar ucapan dari orangtua mereka. Dua dari tiga film di atas secara garis besar memberikan jenis penceritaan sama sesua dengan pembagiaan babak yang sudah dijelaskan. Namun ada teknis pem-visualan yang dilakukan oleh filmmaker mendapat banyak respon dari para peserta diskusi.

Seperti pada film “Ndak Ilok”, tercatat beberapa scene yang menunjukkan pemeran utama (anak sekolah dasar) membaca majalah dewasa serta mengutarakan kata-kata umpatan. Beberapa peserta diskusi sedikit menyayangkan adegan majalah dewasa karena bisa saja memunculkan keingin tahuan para pemeran setelah sesi shooting berakhir, juga kata-kata umpatan yang terdengar kurang pantas (yang juga terdapat dalam film “Tiwas”) walau pada dasarnya penggunaan kata umpatan pun bisa diartikan sebagai adegan yang terasa natural.

Pada film “Ilang” sendiri, terdapat satu adegan yang memperlihatkan seorang pria dewasa merokok. Ini menjadi pro kontra mengingat saat proses pra-produksi Produksi Bersama ke-15 yang dilakukan oleh Kine Klub UMM, sutradara merasa berat untuk mengiyakan peletakan property berupa asbak dikarenakan film tersebut akan diputarkan secara umum. Selain scene merokok dan kata umpatan, satu film juga menunjukkan scene film yang mem-parodykan adegan erotis. Tentunya itu dinilai sangat vulgar bagi beberapa peserta diskusi.

Namun terdapat banyak nilai plus yang bisa peserta diskusi ambil dalam tiga film ini, seperti film “Ndak Ilok” yang bisa digunakan sebagai film sex education serta cocok ditonton oleh para orangtua untuk lebih memperhatikan bagaimana sikap anak mereka saat di luar rumah. Selain itu, dari ke tiga film yang ditayangkan, para peserta diskusi (yang semuanya adalah mahasiswa/i) seakan dibawa kembali kepada masa kecil mereka dengan scene-scene permainan zaman dahulu seperti petak umpet, bermain layangan serta beberapa hal yang sangat jarang dilakukan oleh anak-anak zaman sekarang (tahun 2000-an).

Melalui tanggapa pada pada paragraf atas terbentuk kesimpulan bahwa sebenernya ini kembali kepada penempatan segmentasi usia dari film tersebut. Tiga film tersebut mungkin bisa ditayangkan kepada anak-anak namun harus dengan dampingan orangtua mengingat beberapa scene dalam film dikatakan sedikit vulgar dan penuh kata umpatan, selain itu tiga film ini pun juga dapat menjadi tayangan bagi usia 13 tahun keatas karena dirasa bisa mengembalikan ingatan pada masa kecil mereka. Lalu pada sejatinya, kegunaan film selama ini tentu sebagai media penyampai pesan, terkhusus untuk film anak, tidak cukup hanya sebagai hiburan namun film tentu bisa digunakan sebagai media pembelajaran dengan mengikuti perkembangan teknologi yang serba digital ini.(nd)

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan ke White Label SEO Batal membalas

Please enter your comment!
Please enter your name here